
Ketua Lazismu Wilayah Gorontalo mengonsolidasikan ZIS dan zakat fitrah di RS. Siti Khadijah, menegaskan pentingnya pengelolaan kolektif dan profesional, yang disambut dukungan penuh Direktur RS dengan ajakan kepada seluruh karyawan menyalurkan ZIS melalui Lazismu sebagai lembaga amil zakat nasional resmi Muhammadiyah.
GORONTALO — Ketua Lazismu Wilayah Gorontalo melakukan sosialisasi sekaligus mengajak konsolidasi pengelolaan ZIS (Zakat, Infaq, Sedekah) termasuk zakat fitrah di lingkungan AUM Muhammadiyah, RS. Siti Khadijah. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat tata kelola zakat secara kolektif, profesional, dan berdampak luas bagi masyarakat.
Dalam pemaparannya, Ketua Lazismu menegaskan bahwa zakat fitrah bukan sekadar kewajiban personal, melainkan bagian dari sistem sosial Islam yang harus dikelola secara terstruktur.
“Kita bekerja setiap hari menyelamatkan fisik manusia. Tetapi zakat fitrah adalah cara kita menyelamatkan jiwa sosial umat,” ujarnya di hadapan jajaran manajemen, dokter, dan tenaga kesehatan RS Siti Khadijah. Ia menjelaskan, Muhammadiyah mengajarkan konsep kerja kolektif. Karena itu, konsolidasi zakat fitrah melalui Lazismu dinilai sebagai langkah strategis agar distribusi lebih tertib, tepat sasaran, serta akuntabel dan transparan.
Menurutnya, AUM seperti rumah sakit Muhammadiyah adalah bagian dari gerakan dakwah persyarikatan. Maka pengelolaan zakat pun harus selaras dengan nilai profesionalitas yang menjadi karakter institusi kesehatan. “Rumah sakit Muhammadiyah adalah bagian dari gerakan Muhammadiyah. Dokter dan tenaga kesehatan adalah profesi profesional. Maka zakat pun harus dikelola secara profesional,” tegasnya.
Melalui konsolidasi ini, pentasyarufan zakat fitrah dapat difokuskan kepada fakir miskin di sekitar rumah sakit, keluarga pasien dhuafa, tenaga cleaning service dan outsourcing yang memenuhi kriteria, serta wilayah binaan Muhammadiyah. Skema distribusi dilakukan dengan pendataan by name by address, validasi mustahik, dan penyaluran sebelum Hari Raya Idul Fitri sesuai ketentuan syariat.
Ketua Lazismu juga mengingatkan bahwa zakat fitrah memiliki dimensi spiritual dan sosial sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ tentang zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dan makanan bagi orang miskin. Ia menambahkan, konsolidasi akan menghadirkan dampak strategis yang lebih luas. Dengan potensi ratusan muzaki di lingkungan rumah sakit, zakat yang terhimpun dapat menjangkau lebih banyak mustahik dan memperkuat program sosial institusi. “Zakat fitrah kita mungkin kecil. Tetapi bagi mereka, itu adalah senyum di hari raya,” katanya.
Kegiatan sosialisasi tersebut mendapat tanggapan hangat dari Direktur RS Siti Khadijah, dr. Rusli A. Katili, MARS. Ia menyampaikan apresiasi atas langkah konsolidasi yang dilakukan Lazismu dan menyatakan dukungan penuh dari manajemen rumah sakit. Menurut dr. Rusli, seluruh karyawan patut berbangga karena Muhammadiyah memiliki lembaga amil zakat nasional yang resmi. “Kita harus bangga, karena Muhammadiyah memiliki lembaga amil zakat nasional yang resmi, yaitu Lazismu, yang menghimpun dan mengelola zakat, infak, dan sedekah secara profesional,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh dokter, tenaga kesehatan, dan karyawan untuk menyalurkan ZIS melalui Lazismu sebagai bentuk komitmen terhadap gerakan Muhammadiyah. “Mari kita salurkan ZIS kita melalui Lazismu. Dengan sistem yang terorganisir dan akuntabel, insyaAllah manfaatnya akan lebih luas dan lebih terasa bagi umat,” tambahnya.
Kegiatan sosialisasi ini diharapkan menjadi momentum penguatan sinergi antara Lazismu dan AUM Muhammadiyah, sekaligus mempertegas peran zakat sebagai instrumen pemberdayaan umat.
Menutup penyampaiannya, Ketua Lazismu menyampaikan pesan inspiratif yang disambut hangat peserta:
“Rumah sakit menyembuhkan tubuh. Lazismu menguatkan umat. Ketika keduanya bersinergi, lahirlah peradaban.”
Dengan konsolidasi ini, Lazismu Wilayah Gorontalo optimistis pengelolaan zakat fitrah di lingkungan RS Siti Khadijah akan semakin terintegrasi, terpercaya, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat Gorontalo.